Kecewa
By : Deny
Rozaqul
Kring…kring…kring…
dentuman mesin waktu yang mulai bersahutan dengan nyanyian ayam jago yang terdengar
macho. Padahal waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB saat yang tepat untuk
berbaring malas diatas ranjang yang empuk selagi hari minggu yang mendukung
untuk rehat sebentar dari rutinitas yang tampak begitu padat. Berat rasanya
untuk mengedipkan mata dari gemerlapnya bunga penghantar tidur, seperti tak ada
motivasi lagi untuk bersemangat menyongsong datangnya hari yang cerah nan
bersahaja. Namun, bunyi beker yang berada tidak jauh dari tempat tidur memaksaku
bangun dari dengkuran panjang dan seakan
mengisyaratkan untuk menyapa dunia yang fana ini. Bergegas, ku ambil
selimut pelindung tubuh dari dinginnya malam di sudut ranjang bagian kanan.
Berangsur secara tak kusadari benda penghias tidur mulai tertata rapi seperti
semula. “Saatnya untuk bersantai dan bermalas ria!” gumamku dalam sukma.
Saat
tubuh ini mendorong ragaku menuju tempat begadangku tiap malam, kumelihat deretan
kata berjejer diantara rapinya buku diatas almari. Ya, itu adalah kumpulan
tugas sekolah yang sudah menunggu gilirannya untuk dilahap habis. Mata ini
mulai berkaca-kaca melihat tulisan yang sangat mengganggu itu. “sial!!! Masih
banyak tugas yang belum aku kerjakan” kataku yang secara spontan bicara tak
sopan. Dengan memberanikan diri, kubuka perlembar catatan tugas minggu ini
dengan tak bergairah dan penuh rasa bosan. Di dalam catatan tersebut tak
sengaja kumelihat tulisan tak begitu jelas tapi tak asing di pikiranku. BIN adalah
tulisan yang terpapar di kertasku yang penuh dengan coretan tinta hitam tak
bersahabat. Terbesit dipikiranku untuk mulai melupakan sejenak segala pekerjaan
rumah yang membuat otakku rasanya mau meledak seketika. Spontan, aku membuka
alat komunikasi yang entah aku tak tahu siapa penciptanya untuk menghiburku.
Nada dering yang mulai menunjukkan tajinya bernyanyi dengan merdunya, kubuka
perlahan ponsel ini menggunakan jari jempol untuk menunjukkan pola yang memang
aku siapkan untuk mejaga privasi hidup ini. Daku dengan cepat mengaktifkan data
seluler yang digunakan untuk berselancar bebas di dunia internet itu, ku
membuka aplikasi sosial media yang kerap disebut dengan kata Facebook. Aku
membuka beberapa tautan yang kiranya akan menghapuskan ingatanku pada masa
lampau yang begitu suram. Lalu diri ini menemukan pembaharuan dari berbagai
sahabat di dunia maya ini yang kadang-kadang ku tak mengetahui jati diri mereka
yang sesungguhnya. Kubuka satu demi satu berita terbaru yang ada dibarisan awal
halaman karena terlihat begitu anggun nan ciamik. Setelah beberapa pesan ku
baca, kumelihat akun Facebook seorang gadis yang baru saja mengubah foto
sampulnya. Begitu cantik nan rupawan adalah kesan pertama yang terlukiskan
dalam benak kecil ini saat pertama melihat foto dirinya yang dibungkus dengan
balutan gaun yang begitu semerbak serta dihiasi bingkai warna-warni yang
menyilaukan mata. Daku mulai memandangi dan mengamati begitu detail rupanya
yang tampak begitu jelas dengan latar belakang pemandangan sungai yang indah
serta begitu banyaknya bunga-bunga bertaburan diantara sudut pandang sebuah
optik yang menirukan setiap pose yang ia peragakan yang diimbangi karunia tubuh
yang begitu mempesona seperti layaknya bintang film seperti ada di layar kaca.
Semakin lama kumemandangnya, imajinasi ini mulai berkeliaran entah kemana
tujuannya. Seakan foto tersebut mengisyaratkan untuk mengenalnya lebih jauh
lagi dari hanya sekedar mengaguminya dengan sebuah tiruan modern yang entah
kapan pudarnya.
Tanpa
menunggu perintah, kubuka seluruh foto koleksinya yang entah dimataku tak ada
kata kurang untuk melukiskan sebuah gambaran maya yang ia miliki. Lalu perlahan
ku melihat keterangan status dirinya untuk mengungkapkan gundah dan gelisah
serta guna mengekspresikan segala fantasi yang sempat terlintas dipikirannya.
Inikah yang dinamakan cinta? Kubertanya-tanya pada cerminan diri ini yang masih
terlihat polos dan lugu serta masih begitu kecil untuk mengenal dunia remaja
yang sangat terlihat tabu bagiku. Tapi aku menganggapnya hanya sekedar gurauan
hati untuk menenangkan diri dari ganasnya masalah pendidikan yang semakin hari
tambah begitu rumit bagaikan gulungan benang yang lupa untuk dirapikan dari
sibuknya seorang ibu yang menjahit sebuah seragam anaknya yang terlihat kumuh
namun dikerjakan dengan balutan kasih sayang seorang bunda kepada buah hatinya.
Memang inilah adanya curhatan hati seorang ABG yang mulai menemukan arti sebuah
kata cinta dihidupnya. Opini ini mulai menjadi sebuah fakta yang mencengangkan saat
diri ini menemukan sebuah status yang terbesit di idenya “selamat pagi malaikat
kecilku tercinta!!!” inilah sebuah kenyataan yang membuat perasaan ini menjadi
butiran kaca yang telah pecah berkeping-keping karena tergerus usia. Aku
menyadari bahwa sesungguhnya kutelah menaruh sebuah harapan manis pada parasnya
yang kukira akan menemaniku pada sebuah ujung penantian lama yang sangat
kutunggu kehadirannya di dunia yang kejam ini. Namun itu hanyalah sebuah fiktif
belaka yang memberiku sebuah sugesti untuk tetap menyimpan setiap memori dari
jejak langkahnya pada diri ini. Dalam hitungan detik, langsung saja kukeluarkan
segala aktivitasku dari sesalnya dunia maya ini, karena daku merasa sangat
kecewa dengan jiwa yang lemah nan sangat pengecut pada insan yang berjuluk
wanita ini selalu menghantuiku dari setiap langkah kehidupan yang kujalani
hingga saat ini. Tapi daku mulai belajar dari sebuah kesalahan yang tampak
begitu gelap dari paginya hari ini. Mulai bangkit dan menyusun sebuah tangga
emas menuju puncak kejayaan yang begitu abadi saat tubuh ini mulai tak bisa
mendengar setiap jeritan dunia ini, tak dapat memandang rupa yang elok dari
setiap jengkal kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar