Jumat, 29 Januari 2016

Cerpenku

Kecewa
                                                        By : Deny Rozaqul


Kring…kring…kring… dentuman mesin waktu yang mulai bersahutan dengan nyanyian ayam jago yang terdengar macho. Padahal waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB saat yang tepat untuk berbaring malas diatas ranjang yang empuk selagi hari minggu yang mendukung untuk rehat sebentar dari rutinitas yang tampak begitu padat. Berat rasanya untuk mengedipkan mata dari gemerlapnya bunga penghantar tidur, seperti tak ada motivasi lagi untuk bersemangat menyongsong datangnya hari yang cerah nan bersahaja. Namun, bunyi beker yang berada tidak jauh dari tempat tidur memaksaku bangun dari dengkuran panjang dan seakan  mengisyaratkan untuk menyapa dunia yang fana ini. Bergegas, ku ambil selimut pelindung tubuh dari dinginnya malam di sudut ranjang bagian kanan. Berangsur secara tak kusadari benda penghias tidur mulai tertata rapi seperti semula. “Saatnya untuk bersantai dan bermalas ria!” gumamku dalam sukma.

Saat tubuh ini mendorong ragaku menuju tempat begadangku tiap malam, kumelihat deretan kata berjejer diantara rapinya buku diatas almari. Ya, itu adalah kumpulan tugas sekolah yang sudah menunggu gilirannya untuk dilahap habis. Mata ini mulai berkaca-kaca melihat tulisan yang sangat mengganggu itu. “sial!!! Masih banyak tugas yang belum aku kerjakan” kataku yang secara spontan bicara tak sopan. Dengan memberanikan diri, kubuka perlembar catatan tugas minggu ini dengan tak bergairah dan penuh rasa bosan. Di dalam catatan tersebut tak sengaja kumelihat tulisan tak begitu jelas tapi tak asing di pikiranku. BIN adalah tulisan yang terpapar di kertasku yang penuh dengan coretan tinta hitam tak bersahabat. Terbesit dipikiranku untuk mulai melupakan sejenak segala pekerjaan rumah yang membuat otakku rasanya mau meledak seketika. Spontan, aku membuka alat komunikasi yang entah aku tak tahu siapa penciptanya untuk menghiburku. Nada dering yang mulai menunjukkan tajinya bernyanyi dengan merdunya, kubuka perlahan ponsel ini menggunakan jari jempol untuk menunjukkan pola yang memang aku siapkan untuk mejaga privasi hidup ini. Daku dengan cepat mengaktifkan data seluler yang digunakan untuk berselancar bebas di dunia internet itu, ku membuka aplikasi sosial media yang kerap disebut dengan kata Facebook. Aku membuka beberapa tautan yang kiranya akan menghapuskan ingatanku pada masa lampau yang begitu suram. Lalu diri ini menemukan pembaharuan dari berbagai sahabat di dunia maya ini yang kadang-kadang ku tak mengetahui jati diri mereka yang sesungguhnya. Kubuka satu demi satu berita terbaru yang ada dibarisan awal halaman karena terlihat begitu anggun nan ciamik. Setelah beberapa pesan ku baca, kumelihat akun Facebook seorang gadis yang baru saja mengubah foto sampulnya. Begitu cantik nan rupawan adalah kesan pertama yang terlukiskan dalam benak kecil ini saat pertama melihat foto dirinya yang dibungkus dengan balutan gaun yang begitu semerbak serta dihiasi bingkai warna-warni yang menyilaukan mata. Daku mulai memandangi dan mengamati begitu detail rupanya yang tampak begitu jelas dengan latar belakang pemandangan sungai yang indah serta begitu banyaknya bunga-bunga bertaburan diantara sudut pandang sebuah optik yang menirukan setiap pose yang ia peragakan yang diimbangi karunia tubuh yang begitu mempesona seperti layaknya bintang film seperti ada di layar kaca. Semakin lama kumemandangnya, imajinasi ini mulai berkeliaran entah kemana tujuannya. Seakan foto tersebut mengisyaratkan untuk mengenalnya lebih jauh lagi dari hanya sekedar mengaguminya dengan sebuah tiruan modern yang entah kapan pudarnya.

Tanpa menunggu perintah, kubuka seluruh foto koleksinya yang entah dimataku tak ada kata kurang untuk melukiskan sebuah gambaran maya yang ia miliki. Lalu perlahan ku melihat keterangan status dirinya untuk mengungkapkan gundah dan gelisah serta guna mengekspresikan segala fantasi yang sempat terlintas dipikirannya. Inikah yang dinamakan cinta? Kubertanya-tanya pada cerminan diri ini yang masih terlihat polos dan lugu serta masih begitu kecil untuk mengenal dunia remaja yang sangat terlihat tabu bagiku. Tapi aku menganggapnya hanya sekedar gurauan hati untuk menenangkan diri dari ganasnya masalah pendidikan yang semakin hari tambah begitu rumit bagaikan gulungan benang yang lupa untuk dirapikan dari sibuknya seorang ibu yang menjahit sebuah seragam anaknya yang terlihat kumuh namun dikerjakan dengan balutan kasih sayang seorang bunda kepada buah hatinya. Memang inilah adanya curhatan hati seorang ABG yang mulai menemukan arti sebuah kata cinta dihidupnya. Opini ini mulai menjadi sebuah fakta yang mencengangkan saat diri ini menemukan sebuah status yang terbesit di idenya “selamat pagi malaikat kecilku tercinta!!!” inilah sebuah kenyataan yang membuat perasaan ini menjadi butiran kaca yang telah pecah berkeping-keping karena tergerus usia. Aku menyadari bahwa sesungguhnya kutelah menaruh sebuah harapan manis pada parasnya yang kukira akan menemaniku pada sebuah ujung penantian lama yang sangat kutunggu kehadirannya di dunia yang kejam ini. Namun itu hanyalah sebuah fiktif belaka yang memberiku sebuah sugesti untuk tetap menyimpan setiap memori dari jejak langkahnya pada diri ini. Dalam hitungan detik, langsung saja kukeluarkan segala aktivitasku dari sesalnya dunia maya ini, karena daku merasa sangat kecewa dengan jiwa yang lemah nan sangat pengecut pada insan yang berjuluk wanita ini selalu menghantuiku dari setiap langkah kehidupan yang kujalani hingga saat ini. Tapi daku mulai belajar dari sebuah kesalahan yang tampak begitu gelap dari paginya hari ini. Mulai bangkit dan menyusun sebuah tangga emas menuju puncak kejayaan yang begitu abadi saat tubuh ini mulai tak bisa mendengar setiap jeritan dunia ini, tak dapat memandang rupa yang elok dari setiap jengkal kehidupan.


                                                            

My Poetry

Terlena
                                                                                                                         By : Deny Rozaqul
Detik ini, Kabut datang lagi
Berputar, berkeliling diantara sucinya angkasa
Ku menoleh pada sukma gelapku
Inikah insan beradab?
Inikah makhluk sempurna?
Entahlah !!!
Angin yang menyapa meruntuhkan lamunanku
Fantasi ini mulai menjalar pergi
Teringat, tikus-tikus berdasi berkeliling sunyi
Mengais moleknya berlian yang mulai basi
Itukah harga diri?
Entahlah !!!
Perlahan, fatamorgana mulai berbisik
Diantara gelapnya malam ini
Disaat gagapnya hati
Mulai luntur, seiring runtuhnya potensi